kata pembuka

Monday, 4 June 2012

PARENTING SKILL (13 LANGKAH SALAH MENDIDIK ANAK)

Belajar di waktu kecil, bagai mengukir di atas batu.
Belajar sesudah dewasa, bagaikan kita mengukir di atas air
 


Kemampuan manusia mempelajari sesuatu juga mengikuti pertumbuhan dan perkembangan manusia itu. Yaitu dari rendah tumbuh menjadi tinggi, menurun, kemudian hilang kemampuan belajarnya.
Kemampuan belajar anak lebih tinggi daripada orang tua. Sehingga belajar diwaktu anak-anak akan lebih berhasil dibanding dengan belajar diwaktu tua, sebagaimana digambarkan pada sepenggal syair di atas.

Dalam belajar tentang kehidupan, manusia mengenal beberapa lingkungan belajar, yang dimulai dengan lingkungan keluarga, lingkungan tetangga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah dan lingkungan yang lebih besar lagi.
Dalam lingkungan keluarga, proses belajar dimulai dengan mendengarkan, melihat dan memperhatikan perbuatan, menirukan, mencontoh pada anggota keluarga.
Begitu pula dalam lingkungan tetangga, masyarakat dan lingkungan lainnya, manusia mengenal dan mengalami proses belajar tersebut, yang baik maupun yang buruk, yang benar maupun yang salah, semua dipelajari manusia.

Dalam keluarga, anak ibarat sebuah buku yang masih bersih. Mau di tulis apa di dalam buku itu tergantung pada orang tuanya. Peter Roscegar dalam sebuah bukunya mengatakan, anak itu ibarat sebuah buku yang harus kita baca dan tulisi di dalamnya. Jadi kedua orang tua itu sangat besar perannya dalam proses belajar/pendidikan anak.



Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa melupakan istilah " contoh lebih baik daripada perintah". Dalam proses belajar, anak cenderung mencontoh perilaku orang lain. Anak lebih senang menirukan daripada disuruh, diperintah, atau dilarang. Sehingga memberikan contoh yang baik akan lebih efektif dalam mendidik anak menjadi manusia yang baik.

RJ Sarumpait dalam salah satu bukunya mengemukakan 13 langkah salah yang dilakukan orang tua dalam mendidik anak. Ketiga belas langkah salah tersebut adalah:
  1. Memenuhi semua keinginan anak
  2. Mematahkan kemauan anak
  3. Membicarakan tingkah laku anak di depan orang lain
  4. Mengatakan anak nakal
  5. Menghina anak
  6. Menakut-nakuti anak
  7. Bertengkar dengan anak
  8. Memberi anak uang untuk foya-foya
  9. Terlalu banyak bicara
  10. terlalu banyak melajara
  11. Bersuara keras dan lantang
  12. Menghukum anank dengan mengharuskan bekerja, belajar, tidur
  13. tidak melatih anak bekerja
Masih berhubungan dengan proses pembelajaran anak, Dr. Zakiah Drajat mengemukakan sebuah teori yang terkenal dengan teori Elentika. Beberapa pelajaran yang diambil dari teori tersebut adalah:
  • Berdosa bila orang tua mengatakan kata-kata "jangan" kepada anaknya.
  • Kita menyuruh anak melakukan sesuatu, tetapi si anak tidak merasa kalau disuruh.
  • Kita melarang anak berbuat sesuatu , tetapi si anak tidak merasa kalau dilarang.
Contoh penerapan teori elentika dalam kehidupan keluarga, misalnya seorang ayah sedang duduk diruang tamu, HP-nya ketinggalan di kamar tidur, ingin anaknya yang bernama Upin mengambilkannya. Dia berkata, "Dik Upin, Bapak mau menelpon Bude, tetapi HP-nya kok ketinggalan di kamar ya....."
Si Anak akan menawarkan diri mengambilkan HP ayahnya.


Semoga bermanfaat untuk pembaca dan saya kelak. amiiin
ajkhr

No comments:

Post a Comment